Tania masih ingat betapa aku mengulum lembut bibir tipisnya dengan luapan perasaan yang apa adanya. Aku sangat bergelora. Bokep Montok Namun dalam hati ia mengagumi caraku yang tetap halus namun tanpa basa-basi itu.“Nia, juga.., tapi gimana”, ujar Tania kembali.“Nia bantuin Mas yaa..”, aku meminta kepadanya.“Bantuin apa..?”, ujar Tania bingung.“Bantuin biar rasa kangen Mas terobati”“Nia mau mbantuin Mas apa saja, sepanjang Nia bisa. iyaa.. Ia menelentang kembali, kini dengan mata terbelalak sepenuhnya. Ia tak tahan lagi. Nafasku semakin memburu. Aku semakin cepat bergerak, dengan nafas yang tak kalah menggebunya. Ini tanggung jawab Nia, lho!”. IOU”, aku mengakhiri percakapan.“IOU Mas.., mimpiin Nia yaa.., bye”, lalu Nia menutup telephonenya.Malam bagai tak peduli. Bergetar seirama degup jantungku yang tak teratur. Bibir Mas sedang mengusap-usap lembut rambut-rambut halus di belakang telingamu, lalu beralih ke bibir indahmu”, aku mulai menceritakan fantasiku kepadanya.Di depan mataku seakan-akan ada sebuah film yang diputar berulang-ulang, berisi gambar indah percumbuan kami yang sangat singkat tetapi sangat menggairahkan itu.




















