Sampai ia selesai mengelap bagian belakang pahaku dan berdiri. Semua orang bebas masuk asal punya uang. Bokepindo Ia tidak membalas tapi lebih ramah. Langkahku semangat lagi. Aku pertegas bahwa aku mengendus kuat-kuat aroma itu. Ia masih dingin tanpa ekspresi. Itu artinya ia tidak mau diganggu. Ayo..!Aku masih diam saja. Ke bawah lagi: Tidak. Begini saja daripada repot-repot. Ke bawah lagi: Turun. Itu artinya ia tidak mau diganggu. Mungkin sapu tangan ini saja suatu kealpaan. Atau apalah? Ah apa saja. Aku terlambat setengah jam.Padahal, wajah wanita setengah baya yang di lehernya ada keringat sudah terbayang. Aku masih di atas angkot. Aku pertegas bahwa aku mengendus kuat-kuat aroma itu. Pletak, pletok, sepatunya berbunyi memecah sunyi. Karena itulah, tidak akan hadir kesempatan ketiga. Ke bawah lagi: Tidak. Lagi pula percuma, tadi saja di angkot aku kalah lawan kancing. Aku tidak berpakaian kini. Ia berlutut mengelap paha bagian belakang. Kulihat di bawahku ada kain, ya seperti saputangan.“Itu kali Mbak,” kataku datar dan tanpa tekanan.Ia berjongkok persis di depanku, seperti ketika ia




















