Hitam. Ah sialan. Bokepindo Ah mengapa begitu cepat.Jarinya mengelus tiap mili pahaku. Toh ia sudah seperti pasrah berada di dekapan kakiku.Aq harus, harus, harus..! Tapi mengelap dengan handuk hangat sisa-sisa cream pijit yg masih menempel di tubuhku. Sekarang hitung penumpang angkot dan supir. Padahal, wajah wanita setengah baya yg di lehernya ada keringat sudah terbayang. Tdk lama wanita itu mengetuk langit-langit mobil. Lalu menyentuh Penis dengan sisi luar jari tangannya. Kami seperti tdk ingin membuang waktu, melepas pakaian masing-masing lalu memulai pergumulan.Iin menjilatiku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tetapi eh.., diam-diam ia mencuri pandang ke arah penisku. Ia terus mengelap pahaku. Aq langsung memasukkan ke saku baju tanpa mencermati nomor-nomornya. Yes.., akhirnya. Dingin. Ah sial. Aq mengurungkan niatku. Nafasnya tersengal. Suara itu lagi. Aq tdk dapat lagi memandanginya.Kantorku sudah terlewat. Kring..! Aq berhasil.“Ini..,” kutunjuk pangkal pahaku.“Besok saja Sayang..!” ujarnya.Ia hanya mengelus tanpa tenaga. Masih menutupi diri dengan tabloid. Begini saja daripada repot-repot.




















