Paling-paling ia hanya menepis tanganku sambil matanya jelalatan khawatir ada orang yang melihatnya. Aku bebas saja mendesah, melenguh, atau bahkan menjerit kecil, tempat parkir yang luas itu memang sepi. Film Porno Keteganganku yang tadi sempat turun oleh “gangguan” orang lewat, kini naik lagi. Mulailah aku menyusun rencana. Kelihatannya ia sudah biasa ber-oral-seks. Diapun mengulum sambil was-was. Kadang bibirnya berperan sebagai “bibir” bawahnya, menjepit sambil naik-turun. “Mau minum susu? Selama ini Sari memberi sinyal “bisa dibawa”, tapi sekarang ia menolak masuk hotel. Rupanya Sari berpikiran sama. Peristiwa semalam tak mengubah prilakunya. Lepas dari kemacetan kembali Sari memainkan lidahnya di leher penisku. “Buka kancingnya Sar..” Sari menurut, dengan agak susah ia membuka kancing, menarik ritsluiting celanaku dan “mengambil” penisku yang telah keras tegang.Beberapa menit kami bergumul dengan cara begini.




















