Kemudian ia menanggalkan kaos oblong yang dikenakannya, juga celana jeans-nya. Ouuhh..” Saya dan Dokter S sama-sama menjerit keras. Bokepindo Tanpa mau membuang waktu, saya langsung menerima pemberiannya. Ia langsung naik ke atas tubuh saya yang masih berbaring tertelentang di tempat tidur. Tidak apa-apa deh kalau harus diperiksa berjam-jam olehnya. Saya.. Dokter yang ternyata bernama Dokter S itu menghampiri saya dengan berkalungkan stetoskop di lehernya yang jenjang dan putih.“Kamu pernah menderita penyakit berat? Seketika itu juga saya menjadi bersemangat kembali.“Selamat malam, Dok”, sahut saya. Saat itu saya sudah hendak memutuskan untuk pulang ke rumah, mengingat waktu sudah berlalu limabelas menit. Aaahh..” Akhirnya saya sudah tidak tahan lagi. Dokter S memahami apa maksud saya. Dengan bertubi-tubi disedot-sedotnya batang kemaluan saya. baru pertama kali.. Pasti lagi-lagi cuma cek darah, air seni, dan kotoran saja. Saya menarik tangan Dokter S agar ikut naik ke atas tempat tidur. Saya menggeleng.“Sekarang coba kamu tarik nafas lalu hembuskan, begitu berulang-ulang ya.” Dengan stetoskopnya, Dokter S memeriksa tubuh saya.




















