“Mas.., cukup mas!”, tangannya mencoba mendorong dadaku untuk menghentikan kegiatanku. Bokep Hot Kesempatan ini aku gunakan untuk menekan kejantananku yang sedari tadi butuh penyaluran ke selangkangannya. Aku mulai menghitung detik-detik yang berlalu hingga hampir setengah jam, dan tiba-tiba handphoneku berbunyi. Aku dan Eksanti mulai merasa kegerahan. Aku tidak tahan untuk berlama-lama menunggu, sehingga akhirnya aku memberanikan diri untuk mencium bibirnya. “Mas, pasti kamu menganggap aku cewek murahan, yaa.. Tanpa canggung lagi aku memeluk pinggang Eksanti, pada saat kami memasuki rumah makan tersebut. Aku menarik tangan kirinya untuk menyentuh kepala kejantananku. Wah, bisa gawat jadinya.Aku akhirnya berdiri dari tempat dudukku untuk menenangkan suasana. Eksanti masih sibuk membereskan pakaian-pakaian yang bertebaran di atas sandaran kursi sofa. Aku meremas jemari tangannya lalu perlahan aku mengangkat menuju bibirku. “Aku juga ingin membantu Mas agar tidak terlalu memikirkanku lagi, tapi..” kalimatnya terputus. Eksanti merintih sambil menahan tanganku. Aku tidak peduli lagi. Aku mempermainkan dengan lidah dan gigiku. Kami tidak mempedulikan butiran-butiran air yang masih menempel di sekujur tubuh kami, sehingga membasahi permukaan kasur.Aku




















