“Ray, Aku masih perawan.”
Ah! Bokep Asia Aku bangga, karena suaminya adalah seorang bule yang benar-benar bule, yang “open minded”. Jangan katakan lagi. Menjentikkan jemarinya memanggil saat aku tergopoh-gopoh memungut rokok mahalku sambil menggerutu. Aku butuh penjelasan.”
“Sayang, emosimu membuyarkan penjelasanku waktu itu.”
“Maaf,” desahku, bahkan kini aku pun tak mampu memandangnya. Jay, sahabat terbaikku.Chie adalah gadis penuh pesona. Dan aku tak bisa menolak ketika Chie mulai menciumi leherku dan membuka retsleting celanaku, menelanjangiku, membiarkanku mendesah saat jemarinya menyentuh batang kemaluanku. Betapa aku menikmati ketakjuban perasaan yang dibawanya. Ah, Chie. Aku sedikit terguncang. “Chie, sudahlah.”
“Ray, Papa udah nggak ada.”
Kuusap belakang kepalanya, menekan tengkuknya, berusaha melegakannya. Mengembangkan otakku untuk memperawani mereka. “Sebelum aku menjadi milik bule. “Ray…” kudengar gadis itu meratap terisak dalam dekapanku. Chie tak pernah masuk ke alam daftar gadis-gadisku.




















