“Eh, kok gitu…” balasku. Bokep Tobrut Kami pun segera keluar dan berkeliling rumah untuk mencari Rianti dan ibunya, agar kami lebih leluasa bergerak apabila sudah melumpuhkan semuanya. Aku memang sering meminjam motornya, karena sampai saat ini aku masih belum mampu membeli kendaraan. Agar tidak dicurigai, aku pun mulai berbicara dengan suara yang agak serak, “Di mana orang tuamu?!” sambilku lepaskan ikatan yang menutup mulutnya dan ku tempelkan belati dekat lehernya. Kami berdua memang sangat kuat minum, kali ini aku ingin melupakan sejenak semua kesedihanku. Aku yang sudah memasuki umur 18 tahun memang sudah seharusnya menjadi tulang punggung keluarga, walaupun aku anak tunggal, tapi aku masih harus menghidupi ibuku. Ranjangnya ada dua, tapi yang satunya kosong, aku yakin ini adalah kamar Rianti dan adiknya, Dini. Mungkin pengaruh dendamku yang sudah memuncak membuatku tak berbelas kasihan lagi, tak pikir dia gadis belia. “Aku sebenarnya tidak enak menceritakannya, tapi kamu sahabatku, aku tak bisa sembunyiin ini darimu…” kata Mamat. Apa orang miskin tidak punya hak untuk mencintai dan dicintai?




















