Tak susah menemukan alamatnya di perumahan Sanggar Hurip ini kemudian kuketuk pintunya tak lama kemudian Ferry muncul dengan masih mengenakan handuk di pinggang entahlah dia sengaja begitu atau memang benar benar habis mandi. Wajahnya sih biasa biasa saja namun nggak mengecewakan, hanya yang aku sukai darinya adalah saat melihat otot otot biseps tangannya yang terlatih itu yang membikin aku horny, ah aku sudah membayangkan betapa nikmat di peluk oleh tangan kekar seperti itu.Setelah mandi dan berpakaian santai setengah formal aku bergegas menuju jalan untuk menyetop taksi menuju rumah Ferry. Bokepindo oh.. menyemburlah lava panasku membanjiri lubang kenikmatan Ferry yang di saat sama juga ternyata Ferry sudah mencapai puncaknya lalu kami terkulai lemas untuk beberapa saat.*****Pukul 11.00Aku pamitan ke Ferry karena saat itu aku ada keperluan ke bank untuk membayar aneka macam tagihan lagipula Ferry harus mengantar adiknya pergi ke suatu tempat. “Loh kok bengong begitu sih”, kata Ferry sambil tersenyum manis.




















