Esoknya kami sudah berangkat dari tempat yang tak akan terlupakan itu. “Dingin banget” katanya. Bokeb Anisa mencubiti aku, menjambak rambutku, rupanya dia ” keluar”, dan menjerit kenikmatan, lalu aku menyusul yang “keluar” dan oh, oh..oh..muncratlah air maniku dilubang ‘Ms. Sekejap saja hari menjadi gelap gulita, dengan tiupan angin kencang yang dingin. Kami kebingungan sekali, bahkan berteriak memanggil-manggil mereka yang berjalan duluan. Anisa menuntun ‘Mr. Karena remang-remang aku sampai tak melihatnya. Malam semakin larut, hujan sudah reda, bintang-bintang di langit mulai bersinar. Aku dan Anisa layaknya seperti Tarzan dan pacarnya di tengah hutan. Sekejap saja hari menjadi gelap gulita, dengan tiupan angin kencang yang dingin. Mainan Anisa bukan main hebatnya, segala gaya dia lakukan. Rasa-rasanya jalan yang kami lalui itu benar, soalnya hanya ada satu jalan setapak yang biasa dilalui orang. Aku memakaikan jaket parasut itu ketubuh Anisa. Sampai tengah hari, kami mulai memasuki kawasan yang berhutan lebat dengan satwa liarnya, yang sebagian besar terdiri dari monyet-monyet liar dan galak.




















