Mendadak jari tanganku dingin semua. Iatidak lagi dingin dan ketus. Bokep Arab Untung ada tissue yang tercecer, sehinggaada alasan buat Wien.Ia mengambil tissue itu, sambil mendengar kabargembira dari wanita yang menunggu telepon. Betulbetul keras. Tapi mengelapdengan handuk hangat sisasisa cream pijit yang masihmenempel di tubuhku. Pletak, pletok,sepatunya berbunyi memecah sunyi. Jam berapa harussampai di Ciledug, jam berapa harus naik angkot yangpenuh gelora itu. Ia masih dingin tanpaekspresi. katanya sedikit terengah.Oh ya. Hap. Pokoknya turun.Kiri Bang..!Aku lalu menuju salon. Kali ini dengan telapaktangan. Aku masih di atas angkot.Perempuan paruh baya itu pun masih duduk di depanku.Masih menutupi diri dengan tabloid. Kring..!Mbak Wien, telepon. suara itu lagi, suara wanita setengahbaya yang kali ini karena mendung tidak lagi adakeringat di lehernya. Matanyadikerlingkan, bersamaan masuknya mobil lain dibelakang angkot. Sebantar lagi MbakMona yang punya salon ini datang, biasanya jam seginidia datang.Aku langsung beresberes dan pulang. Ini garagara ibukumenyuruh pergi ke rumah Tante Wanti. Eh..,kesempatan, kesempatan, kesempatan. Ayo..!Mbak.., pahaku masih sakit nih..! Aku langsungmemasukkan ke saku baju tanpa mencermati nomornomornya.




















