Aku pun tak tinggal diam, kubuka satu persatu kancing bajunya sehingga terlihat payudaranya yang masih tertutup bra ukuran 34A itu. Bokepindo Mbak Ratih pun mengurangi tempo hisapannya dan kemudian melepas kontolku dari mulutnya. Selain berparas ayu, baju lengan panjang dan celana kain yang biasa ia kenakan seakan mencetak lekukan tubuh langsingnya, apalagi saat mengenakan celana warna cerah membuat garis CDnya tampak erat mencengkeram bongkahan pantatnya yang kecil namun padat dan kencang itu. Pertanyaan skak mat dari mbak Ratih membuatku meringis menyadari kebodohanku.Sudah kepalang basah, entah baik atau jelek ahkirnya kuberanikan diri untuk bertanya pada mbak Ratih.“Apakah mbak Ratih juga sayang sama Adam?” tanyaku lagi. Suasana yang melow mulai membuatku melontarkan kata-kata yang bodoh kala itu.“Kalo mas Adam sayang sama saya kenapa saya disuruh pergi dari sini?” tanyanya balik. Matanya mulai berkaca-kaca dan air mata mulai menetes dari sudut matanya yang indah.“Mbak Ratih, ini tolong diterima ya” ucapku sambil menyodorkan uang.“Apa ini mas?” tanyanya diiringi isak tangis.Ruang dapur yang biasanya dihiasi tawa, kini berubah drastis, apalagi suasana haru




















