Aku bener-bener merasa serba salah saat melihat wajah imutnya agak murung kali ini. Kemudian dia duduk di pinggir ranjangku sambil melihat adegan-adegan yang masih saja berlangsung di layar TV. Bokep Mama tapi mirip sapi!” kataku mencoba mengalihkan perhatiannya. Sekembalinya aku dari kamar mandi, aku terkejut ketika kudapati Aryo ada di dalam kamarku yang tadi lupa kukunci karena aku terburu-buru ke kamar mandi.“Eh, Mas Deni, kok filmnya begini sih? Tante mau nitip si Aryo ke kamu, soalnya Tante pergi dengan Oom, dan si Aryo nggak Tante ajak, kan dia harus sekolah.”Kemudian tiba-tiba Aryo nyelonong masuk kamar. Aryo berpegangan erat di pinggangku, jantungku berdegup, namun aku berusaha biasa aja. Tolong Tante ya?” pinta Tante Ida. Kutindih Aryo di tempat tidurku, dan tanganku mulai mengusap-usap perutnya, dadanya. “Duduk sini, Aryo”, kataku sambil menarik tangannya. Aryo mengerang keras ketika kupijat perlahan kemaluannya. “Sialan Mas Deni!”, maki Aryo. Sepertinya mereka sedang nonton VCD yang diomongin Reza tadi siang di telepon.




















