ini dicopot sekalian ya? “Tenanglah belum waktunya,” ia mengelusnya dengan lembut dan merabai juga kantong zakarku.“Wah.. Bokep Montok biar enak nanti mijitnya!” “Wahhh… itu nanti aja deh, nanti malah berdiri lagi,” kataku setengah bercanda. Ia sengaja mempermainkan perasaanku dengan agak perlahan membuka bajunya. “Ck.. “Bajunya dibuka dulu ya Bang…” katanya dengan tersenyum manis, “OK lahh..” sambutku dengan semangat. Ia sengaja mempermainkan perasaanku dengan agak perlahan membuka bajunya. hh.. baru digitukan aja udah mau keluar, payah kamu,” ledeknya. sebatas ciuman saja biasa kan? biar enak itu punyamu, kan sakit kalau begitu,” pintanya. ennakkk…” katanya. Dengan ramah ia mempersilakan aku masuk ke ruang pijat, ruangan selebar 4×4 dengan satu ranjang dan sebuah kipas angin menggantung di atasnya. “Tapi kipasnya jangan dinyalain yah, dingin nih..” dia pun mengangguk tanda paham akan keinginanku.




















