“Eh sorry, Mas..” Lalu ia jilati seluruh permukaan batang kejantananku, hingga kedua pelerku tidak luput dari serangan ini. Memang baru separuh, sempit sekali, aku hampir tidak tega ketika Nani meringis sambil memejamkan matanya. Bokepindo Nani tertidur, aku segera berpakaian, dan dengan berjingkat ke arah kamarku dekat kamar Mbak Yati. “Kenapa Nan, Mas cabut ya..” “Jangan,” bisik Nani sambil menjepit punggungku dengan kedua kakinya. Aku segera menuju ke kamarku, kulepas semua pakaianku dan kukeringkan dengan handuk. Aku segera menuju ke kamarku, kulepas semua pakaianku dan kukeringkan dengan handuk. Ketika kusibakkan, kulihat warna merah menantang, sedangkan lendirnya sudah banyak mengalir ke sprei batiknya. Dia segera tertidur dengan kepala di atas perutku, menghadap ke kemaluanku. Aku dorong pintunya dan ternyata tidak terkunci. Pada waktu Mbak Yati membangunkanku, untuk makan malam.




















