Iyhaaah? Saya akhirnya sendirian di Ibukota, sepeninggal Simbok. Bokepindo Juragan terus memainmainkan itil saya tanpa ampun. Entahlah saya sendiri juga nggak tahu. Saya cuma bisa bersuara ah uh saja. Saya pikir mungkin dua puluh atau lebih. Saya nggak punya uang, jadi saya cuma bisa bilang maaf, dan si ibu malah ngancam secara halus. Tapi saya tetap ragu. Kami masuk ke rumah Juragan. Masih tidak percaya, saya tanya lagi.Iya asal kamu buka semuanya, kata Juragan sambil menyeringai. Beliau diam saja. Kenapa? Saya sudah enam bulan bunting, tapi tetap masih keliling menari Saya seharusnya sudah berhenti. Dia muncrat di dalam memek saya. Beliau pemilik toko beras yang besar itu. Muka mesti dibedaki tebaltebal, sampai beda warna dengan badan. Awalnya kami berkeliling Ibukota, sekadar mencari keramaian di mana kami bisa memperoleh beberapa lembar rupiah demi menyambung hidup.Kami biasa mulai pagipagi, menjajaki jalanjalan Ibukota untuk mencari orangorang yang mau kami hibur dengan tarian kami. Tangan satunya terus nyibak kain saya, sampai ke dekat pinggang Duh, biyung, sedang diapakan saya ini?




















